Manajemen Konflik

Pengertian manajemen konflik

Manajemen konflik adalah sebagai proses pihak yang terlibat konflik atau pihak ketiga menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.

Tujuan manajemen konflik

  • Mencegah gangguan kepada anggota organisasi untuk memfokuskan diripada visi, misi, dan tujuan organisasi. Jika tidak di manajemeni dengan baik, konflik akan berkembang menjadi konflik destruktif bagi pihak yang terlibat konflik.
  • Memahami orang lain dan menghormati keberagaman. Dalam melaksanakan tugas seorang anggota tidak dapat melakukannya sendiri melainkan butuh bantuan rekan kerjanya dan harus berkomunikasi dengan baik. Mereka harus memahami berbagai perbedaan seperti suku, agama, bahasa, pribadi, perilaku, pola piker dan sebagainya.
  • Meningkatkan keputusan melalui pertimbangan berdasarkan pemikiran berbagai informasi dan sudut pandang. Keputusan yang baik yaitu bertumpu pada berbagai alternative keputusan yang didukung oleh informasi yang akurat. Konflik atau perbedaan pendapat memfasilitasi terciptanya berbagai alternatif keputusan dan penggunaan informasi yang akurat untuk memilih yang terbaik.
  • Menciptakan prosedur dan mekanisme penyelesaian konflik. Suatu organisasi dapat belajar dari berbagai situasi konflik yang dihadapi. Kemudian dari pembelajaran tersebut, prosedur dan mekanisme penyelesaian konflik dikembangkan. Jika berhasil menyelesaikan konflik secara berulang, hal ini akan menjadi norma budaya organisasi. Jika tidak dimanajemeni dengan baik, konflik menyebabkan disfungsional organisasi.

Pedoman manajemen konflik

Suatu organisasi atau perusahaan perlu mempunyai pedoman untuk memanajemeni konflik yang terjadi. Isi pedoman tersebut antara lain sebagai berikut :

  • Prosedur proses untuk menyelesaikan konflik. Konflik yangterjadi dalam organisasi harus segera diselesaikan agar tidak mengganggu produksi dan operasi organisasi inidalam mencapai tujuannya.
  • Siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan konflik dan siapa yang bertanggung jawab untuk mengambil keputusan jika terjadi konflik.
  • Apakah kewajiban dan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat konflik, sebagai contoh, pegawai yang terlibat konflik harus merahasiakannya dan wajib mengutamakan penyelesaian konflik di dalam organisasi dengan tidak meminta bantuan dari orang luar atau pengadilan.

Jika suatu organisasi mulai menghadapi konflik antar anggota atau pegawainya, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan organisasi untuk mengurangi konflik tersebut. Berikut ini adalah langkah-langkahnya :

  • Melaksanakan prinsip-prinsip birokrasi organisasi. Setiap organisasi melaksanakan prinsip birokrasi yang menurut Max Weber(1947) disebut sebagai birokrasi yang ideal. Jika terjadi konflik harus dilaksanakan prinsip hierarki, yaitu atasan mengambil keputusan serta pelaksanaan peraturan dan prosedur.
  • Pemisahan fisik. Pihak-pihak yang terlibat konflik dipisahkan.
  • Mengintegrasikan. Menyatukan kembali pihak-pihak yang terlibat konflik melalui intervensi pihak ketiga, atasan, penasihat, atau mediator professional.
  • Pelatihan. Melaksanakan pelatihan mengenai konflik dan manajemen konflik.

Jenis Konflik

a.      Konflik personal dan interpersonal

  • Konflik personal adalah konflik yang terjadi dalam diri seseorang karena harus memilih dari sejumlah alternative pilihan yang ada atau karena mempunyai kepribadian ganda, maksudnya adalah seseorang yang munafik dan melakukan sesuatu yang berbeda antara perkataan dan perbuatan.
  • Konflik interpersonal adalah konflik yang terjadi dalam suatu organisasi profit maupun non profit atau konflik di tempat kerja. Konflik ini terjadi pada suatu organisasi diantara pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling tergantung dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi.

b.      Konflik interes

Konflik ini berkaitan dengan konflik dalam diri seseorang individu dalam suatu altar sistem social yang membawa implikasi bagi individu dan sistem sosialnya. Konflik mempunyai interes personal lebih besar daripada interes organisasinya sehingga memengaruhi pelaksanaan kewajibannya sebagai pejabat sistem social dalam melaksanakan kepentingan atau tujuan sistem social.

c.       Konflik realistis dan non realistis

  • Konflik realistis, terjadi karena perbedaan dan ketidaksepahaman cara pencapaian tujuan atau mengenai tujuan yang akan dicapai.konflik ini focus pada isu ketidaksepahaman mengenai substansi atau objek konflik yang harus diselesaikan. Disini metode yang digunakan adalah dialog, persuasi, musyawarah, voting dan negosiasi.
  • Konflik non realistis, konflik terjadi tidak berhubungan dengan isu substansi penyebab konflik tetapi dipicu oleh kebencian atau prasangka terhadap lawan konflik yang mendorong melakukan agresi untuk mengalahkan lawan konfliknya. Metode yang digunakan adalah agresi, menggunakan kekuasaan, kekuatan dan paksaan.

d.      Konflik konstruktif dan destruktif

  • Konflik konstruktif, terjadinya siklus konstruktif yaitu siklus dimana pihak-pihak yang terlibat konflik sadar akan terjadinya konflik dan merespon konflik secara positif untuk menyelesaikan secara take and give. Kedua belah pihak berupaya berkompromi atau berkolaborasi sehingga tercipta win win solution yang memuaskan kedua belah pihak.
  • Konflik destruktif, pihak yang terlibat konflik tidak fleksibel karena tujuan konflik di definisikan secara sempit yaitu untuk mengalahkan satu sama lain. Siklus konflik tidak terkontrol karena menghindari isu konflik yang sesungguhnya. Interaksi membentuk spiral yang panjang dimana makin lama makin menjauh pihak-pihak yang  terlibat konflik.

e.      Konflik social

Konflik social timbul oleh beberapa factor. Pertama, timbul karena masyarakat terdiri dari sejumlah kelompok social yang mempunyai karakteristik berbeda. Karl Marx mengelompokkan masyarakat menjadi golongan bangsawan dan proletar. Kedua, kemiskinan dapat menjadi pemicu terjadinya konflik social karena terdesak oleh kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi. Ketiga, terjadinya migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lain yang mungkin tidak dapat diterima dengan baik.

f.        Konflik budaya

Ketidaksepahaman antara norma, nilai, kebiasaan, asumsi, tradisi yang diajarkan dan dilaksanakan oleh masing-masing etnis yang berkonflik. Karakter konflik antar budaya berkaitan erat dengan persepsi masing-masing etnis, cara mereka berinteraksi, dan citra yang ditimbulkan antar kelompok.

Penyebab Konflik

Konflik seringkali merupakan salah satu strategi para pemimpin untuk melakukan perubahan. Jika tidak dapat dilakukan secara damai, perubahan diupayakan dengan menciptakan konflik. Pemimpin menggunakan factor-faktor yang dapat menimbulkan konflik untuk menggerakkan perubahan. Tetapi konflik dapat terjadi secara alami karena adanya kondisi objektif yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Berikut adalah kondisi objektif yang bisa menimbulkan konflik :

  1. Keterbatasan sumber, keterbatasan itu menimbulkan terjadinya kompetisi diantara manusia untuk mendapatkan sumber yang diperlukannya dan hal ini seringkali menimbulkan konflik. Dalam organisasi sumber yang dimaksud bisa berupa anggaran, fasilitas kerja, jabatan, kesempatan untuk berkarier.
  2. Tujuan yang berbeda, konflik yang terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik mempunyai tujuan yang berbeda. Misalnya, pengusaha menginginkan biaya produksinya serendah mungkin termasuk upah buruh. Namun hal ini berbeda dengan buruh yang menginginkan upah sebaik mungkin dengan bekerja seminimal mungkin. Selain itu konflik juga bisa terjadi karena tujuan pihak yang terlibat konflik sama, tetapi cara untuk mencapainya berbeda.
  3. Saling tergantung atau interdependensi tugas, konflik terjadi karena pihak-pihak yang terlibat konflik memiliki tugas yang tergantung satu sama lain. Jika saling ketergantungan tinggi, maka biaya resolusi konflik akan tinggi. Jika saling ketergantungan rendah, maka biaya resolusi konflik akan rendah. Jika tidak ada saling ketergantungan, maka konfliktidak akan terjadi. Jadi, konflik terjadi diantara pihak yang saling membutuhkan saling berhubungan dan tidak bisa meninggalkan satu sama lain tanpa konsekuensi negative.
  4. Komunikasi yang tidak baik, factor komunikasi yang menyebabkan konflik, misalnya distorsi, informasi yang tidak tersedia dengan bebas, dan penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh pihak yang melakukan komunikasi. Perilaku komunikasi yang berbeda seringkali menyinggung orang lain, baik disengaja maupun tidak dan bisa menjadi penyebab timbulnya konflik.
  5. Beragam karakteristik dan pribadi seseorang, konflik sering terjadi karena mempunyai kerakteristik yang beragam dalam suku, agama, dan ideology. Setiap orang juga memiliki sifat kepribadian yang mudah menimbulkan konflik, seperti selalu curiga dan berpikiran negative pada orang lain, egois, sombong, merasa paling benar, kurang mengendalikan emosi dan ingin menang sendiri.

Pengaruh konflik

a.      Pengaruh positif

  • Menciptakan perubahan, konflik dapat mengubah dan mengembangkan kehidupan manusia. Contohnya, Konflik antara penjajah dan bangsa yang dijajah menghasilkan kemerdekaan bangsa yang terjajah. Konflik antar ras kulit putih dengan ras kulit hitam menciptakan persamaan hak atas kedua ras tersebut. Di Indonesia konflik menciptakan perubahan kehidupan politik. Konflik dengan pemerintah belanda memerdekakan bangsa dan Negara Indonesia. konflik dengan orde lama menimbulkan era baru yang diberi nama orde baru. Konflik dengan orde baru menimbulkan reformasi pada berbagai bidang kehidupan di Indonesia.
  • Membawa objek konflik ke permukaan, tanpa konflik, objek konflik yangterpendam diantara pihak yangterlibat konflik tidak akan muncul ke permukaan sehingga konflik tidak mungkin diselesaikan.
  • Memahami orang lain lebih baik, konflik membuat orang memahami adanya orang lain atau lawan konflik yang berbeda pendapat, pola pikir dan berbeda karakter sehingga perlu dimanajemeni dengan baik agar menghasilkan solusi yang menguntungkan dirinya atau kedua belah pihak.
  • Menstimulus cara berpikir yang kritis dan meningkatkan kreativitas, konflik akan menstimulus oranguntuk berpikir kritis terhadap posisi lawan dan posisi dirinya. Sehingga kreativitasnya meningkat dan digunakan dalam menyusun strategi dan taktik untuk menghadapi konflik tersebut.
  • Menciptakan revitalisasi norma, norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat berkembang lebih lambat daripada perkembangan masyarakat itu sendiri. Perubahan tersebut dimulai dengan terjadinya perbedaan pendapat antara pihak yang ingin mempertahankan dan yang ingin mengubahnya. Bila dimanajemeni dengan baik, maka norma baru yang merupakan revitalisasinorma yang ada akan berkembang.

b.      Pengaruh negative

  • Biaya konflik, makin tinggi intensitas konflik, makin tinggi sumber yang akan digunakan. Jika konflik berkembang dari konstruktif ke destrukif, biaya konflik akan meningkat karena merusak organisasi dan muka pihak-pihak yang terlibat konflik. Sumber yang digunakan dapat berasaldari pihak yang terlibat atau dari sumber organisasi.
  • Merusak hubungan dan komunikasi diantara pihak yang terlibat konflik, konflik dapat menimbulkan rasa tidak senang, marah, benci, antipati, dan agresi pada lawan konflik sehingga merusak hubungan dan komunikasi diantara mereka.
  • Merusak sistem organisasi, konflik merusak sistem dan menciptakan sinergi negatif—produksi subsistem-subsistem yang bekerja dalam kesatuan sistem lebih kecil daripada jumlah produksi masing-masing subsistem. Keadaan ini menimbulkan ketidakpastian pencapaian tujuan organisasi.
  • Menurunkan mutu pengambilan keputusan, konflik yang sehat akan membantu dalam pengambilan keputusan dengan menyediakan alternative yang diperlukan. Tapi jika berkembang menjadi konflik tidak sehat akan menghasilkan kebuntuan diskusi, fitnah, agresi, dan sabotase, serta menghilangkan sikap saling percaya. Situasi ini tidak mungkin mengembangkan sumber alternative dalam pengambilan keputusan.
  • Kehilangan waktu kerja, waktu yang digunakan untuk menyelesaikan konflik akan mengurangi waktu untuk berproduksi dan menurunkan produktivitas organisasi serta menyebabkan kerugian yang besar.
  • Sikap dan perilaku negative, konflik dapat menurunkan motivasi kerja, komitmen berorganisasi, absentisme, kepuasan kerja, rasa saling percaya, serta sabotase dan pencurian.
  • Kesehatan, konflik dapat menyebabkan berbagai penyakit timbul akibat ekspresi yang berlebihan dalam menghadapi konflik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s