Perilaku Organisasi

Pengertian Perilaku Orgasnisasi

Berbicara pengertian perilaku organisasi, banyak ahli memberikan definisi. Pendapat pertama menurut  Toha (2001) bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu. Pendapat berikutnya dari John (1983) yang menyebutkan bahwa perilaku organisasi merupakan suatu istilah yang agak umum yang menunjukkan kepada sikap dan perilaku individu dan kelompok dalam organisasi, yang berkenaan dengan studi sistematis tentang sikap dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi di dalam konteks organisasi..Sedangkan pendapat yang lain menurut  James L. Gibson, John. M. Ivancevich, James. H. Donelly Jr. (1986) menyebutkan bahwa yang dimaksud perilaku organisasi adalah studi tentang perilaku manusia, sikapnya dan hasil karyanya dalam lingkungan keorganisasian. Senada dengan pendapat diatas yaitu menurut Robbin (2001) bahwa perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan, kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keefektifan organisasi.

Berdasarkan dari berbagai pendapat diatas, maka secara singkat dapat dikatakan perilaku organisasi tersebut berkenaan  studi  tentang apa yang dilakukan orang-orang dalam suatu organisasi dan bagaimana perilaku (individu/kelompok) mempengaruhi kinerja dari organisasi. Dalam kaitan ini  maka ruang lingkup perilaku organisasi berkenaan dengan perilaku individu/perorangan, perilaku kelompok dan struktur organisasi yaitu perilaku individu dan perilaku kelompok mempengaruhi organisasi dan organisasi mempengaruhi perilaku individu dan perilaku kelompok. Sehingga bahan kajian dalam perilaku organisasi meliputi sikap dan persepsi manusia, dalam hal ini sikap pegawai/karyawan terhadap pekerjaannya, terhadap rekan sekerja, pimpinanya dan sebagainya, serta perilakunya dalam konflik, kerjasama, komunuikasi, motivasi dan lain-lain.

Menurut pendapat  Cummings (1978), terdapat perbedaan antara perilaku organisasi dengan ilmu-ilmu yang lain, misalnya :

  1. Perilaku Organisasi dengan Psikologi Organisasi

Perilaku organisasi konstruksi penjelasannya berasal dari multi disiplin sedangkan psikologi organisasi membatasi konstruksi penjelasannya pada tingkat psikologi. Kesamaan kedua bidang tersebut menjelaskan perilaku orang-orang di dalam organisasi

  1. Perilaku Organisasi dengan Teori Organisasi

Perbedaan perilaku organisasi dengan teori organisasi didasarkan pada dua perbedaan antara unit analisanya dan pusat variabel tak bebas

Perilaku oeganisasi dirumuskan sebagai suatu studi tingkah laku individu dan kelompok di dalam organisasi dan penerapan dari ilmu pengetahuan tertentu. Teori organisasi adalah studi tentang susunan, proses dan hasil-hasil dari organisasi itu sendiri.

  1. Perilaku Organisasi dengan Personel and Human Resources

Perilaku organisasi menekankan pada orientasi konsep sedang personel human resources menekankan pada teknik dan tehnologi.

Larry L. Cummings juga menekankan bahwa perilaku organisasi adalah suatu cara berpikir, suatu cara untuk memahami persoalan-persoalan dan menjelaskan secara nyata hasil-hasil penemuan berikut tindakan-tindakan pemecahan.

Peranan dan Kontribusi Ilmu-Ilmu Lain dalam Perilaku Organisasi

Perilaku organisasi merupakan disiplin ilmu yang tidak berdiri sendiri tetapi mendapat sumbangan yang amat besar dari ilmu lainnya, diantaranya menurut Robbin (2001) adalah ilmu psikologi, sosiologi, psikologi sosial, antropologi dan ilmu politik. Secara sekilas dan singkat peranan dan kontribusi ilmu-ilmu tersebut kepada ilmu perilaku organisasi, dapat diuraikan berikut ini.

a.    Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang berkenaan dengan usaha untuk mengukur, menjelaskan dan kadang-kadang mengubah perilaku manusia. Oleh karena itu para psikolog melibatkan diri mereka dalam studi dan usaha untuk memahami perilaku individu. Secara spesifik sumbangan mereka dalam bidang perilaku organisasi berkenaan dengan masalah-masalah antara lain : kebosanan, kelelahan, kondisi kerja, persepsi, kepribadian, latihan, kepemimpinan, motivasi, pengambilan keputusan dan pengukuran sikap.

b.    Sosiologi

Pusat perhatian sosiologi mempelajari sistem sosial dimana para individu memainkan peranannya. Artinya sosiologi tersebut mempelajari manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Dalam kaitannya dengan perilaku organisasi maka konsep-konsep yang berasal dari sosiologi dapat memberi masukan terhadap perilaku organisasi seperti : dinamika kelompok, proses sosialisasi, budaya organisasi, struktur organisasi formal, birokrasi, komunikasi, status, kekuasaan dan konflik.

c.    Psikologi Sosial

Ilmu psikologi sosial mempelajari perilaku antar pribadi dalam arti berusaha mencari penjelasan tentang bagaimana dan mengapa para individu berperilaku tertentu dalam kegiatan kelompoknya. Kontribusi untuk perilaku organisasi yaitu bagaimana menerapkan perubahan dan bagaimana mengurangi hambatan agar suatu perubahan dapat diterima, mengukur dan mamahami serta mengubah sikap, pola komunikasi dan cara-cara bagaimana kegiatan kelompok memenuhi kebutuhan individu.

d.    Antropologi

Antropologi mempelajari masyarakat untuk mengetahui seluk beluk manusia dan aktivitasnya. Hal yang dapat diambil dari antropologi untuk perilaku organisasi seperti perbedaan-perbedaan fundamental dalam nilai, sikap dan norma tentang perilaku yang dapat diterima mempengaruhi cara orang bertindak.

e.    Ilmu Politik

Para ilmuwan politik mempelajari perilaku individu dan kelompok dalam suatu lingkungan politik. Berbagai hal yang dapat diambil dari ilmu politik oleh perilaku organisasi adalah struktur konflik, alokasi kekuasaan dan bagaimana orang memanipulasi kekuasaan untuk kepentingan pribadinya.

 Tujuan Memahami Perilaku Organisasi

Secara jelas perilaku organisasi pasti mempunyai tujuan. Adapun tujuan perilaku organisasi adalah untuk mendeterminasi bagaimana perilaku manusia mempengaruhi usaha pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Semakin banyak perilaku atau kejadian yang dapat diprediksikan dan semakin banyak yang dapat dijelaskan, maka pada gilirannya akan dibutuhkan bentuk kontrol atau pengendalian perilaku. Maksudnya tidak lain agar perilaku individu dalam organisasi dapat selalu diarahkan kearah yang positif, yaitu perilaku yang menunjang pencapaian sasaran organisasi secara efektif.

 Latar Belakang Sejarah Perilaku Organisasi

Berbicara tentang sejarah lahirnya disiplin ilmu perilaku organisasi terdapat beberapa peristiwa dan pendapat dari beberapa ahli yang melatarbelakanginya. Adapun peristiwa/ pendapat para ahli tersebut sebagai berikut :

  1. Max Weber
  2. Henry Fayol
  3. Frederick Winslow Taylor
  4. Gerakan Hubungan Kemanusiaan
  5. Masa Depresi
  6. Gerakan Serikat Buruh
  7. Penemuan Hawthorne
  8. Evolusi Ilmu Perilaku dalam Manajemen

Sebelum penjelasan dari para ahli diatas terdapat pendapat dari Plato bahwa jiwa manusia dibagi 3 bagian yaitu :

  1. Philosophic/ filosofis adalah suatu alat untuk mencapai ilmu pengetahuan dan pengertian
  2. Spirited/ ambisius adalah aspek jiwa manusia untuk berusaha mencari kekuasaan dan ambisi
  3. Appetite/ pencinta keberuntungan adalah keinginan untuk memenuhi selera misal makan, minum, seks dan uang.

Semua orang mempunyai ketiga jiwa ini tetapi kadarnya berbeda-beda. Didalam berperilaku maka manusia dipengaruhi ketiga jiwa manusia diatas.

1.    MAX WEBER

Pendapat Max Weber menekankan pada organisasi. Menurut Max Weber manusia/seseorang itu lemah membutuhkan bantuan dan menekankan kepada penjelasan mengenai organisasi dibanding dari pengembangan suatu prinsip yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan praktis.

2 (dua) aspek hasil kerja Max Weber yaitu :

a.  Sebagai seorang ahli ilmu sosial, tertarik untuk menjelaskan preskripsinya dari pertumbuhan organisasi yang besar.

b. Terkesan akan kelemahan-kelemahan manusia dengan pertimbangan yang kadang-kadang tidak realistis dan bahwa manusia mempunyai rasa emosi

Jadi menurut Max Weber perilaku yang dicerminkan dari birokrasi yaitu rasa tidak percaya kepada kesanggupan dan kemampuan manusia untuk menciptakan rasionalitas tertentu, mendapatkan informasi yang baik, membuat keputusan yang obyektif karena seseorang selalu membutuhkan bantuan.

2.  HENRY FAYOL

Henry Fayol mempengaruhi pemikiran-pemikiran manajemen di Eropa. Pandangan Fayol dianggap sebagai suatu pemikiran tentang organisasi administratif. Teori administrasinya dikenal sebagai pendekatan fungsional. Dia berpendapat semua organisasi terdiri dari unit-unit/subsistem yaitu :

  1. Aspek teknik dan komersial dari kegiatan pembeliam, produksi dan penjualan
  2. Kegiatan-kegiatan keuangan yang berhubungan dengan masalah-masalah permintaan dan pengendalian kapital
  3. Unit-unit keamanan dan perlindungan
  4. Fungsi perhitungan
  5. Fungsi administrasi dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi dan pengendalian

3.  F. WINSLOW TAYLOR

Dasar dari penelitian F. Winslow Taylor yaitu lebih menekankan pada pentingnya akan waktu. Seperti dijelaskan dibawah ini, tekanan dari pendapat F. Winslow Taylor adalah sebagai berikut :

  1. Efisien waktu/penelaahan waktu. Unsur ini dipergunakan untuk menetapkan secara tepat berapa banyak waktu yang diperlukan oleh setiap orang di dalam setiap aspek kerjanya.
  2. Penggunaan bagian perencanaan untuk menjelaskan bagaimana pekerjaan harus dikerjakan dan serangkaian pengawasan fungsional untuk memberi pengarahan pada pekerja agar bekerja menurut metode yang tepat.

Berdasarkan pendapat dari F. Winslow Taylor mulai dikenal dengan prinsip-prinsp manajemen ilmiah. Taylor mengusulkan 3 (tiga) hal sebagai tujuan gerakannya yaitu :

  1. Amerika Serikat telah dirugikan banyak sekali akibat karena tidak adanya efisiensi di hampir setiap usaha pada tiap harinya.
  2. Mencoba meyakinkan kepada masyarakat Amerika Serikat bahwa pengobatannya terletak pada manajemen yang sistematis bukan pada usaha mencari orang-orang yang istimewa.
  3. Untuk membuktikan bahwa manajemen yang baik adalah suatu ilmu yang tepat yang berdasarkan pada hukum-hukum yang jelas, aturan-aturan dan prinsip-prinsip.

Kesimpulan pemdapat F.W. Taylor bahwa perilaku manusia merupakan salah satu komponen dalam suatu mesin produksi yang besar. Hanya kepada mereka yang dapat bekerja seperti mesin yang akan mendapat tempat di dalam sistem produksinya.

4. GERAKAN HUBUNGAN KEMANUSIAAN

Penekanan pada Gerakan Hubungan Kemanusiaan ini adalah pada kerja sama dan semangat kerja atau moral karyawan/pegawai yang digolongkan ke dalam aspek hubungan kemanusiaan. Tokohnya adalah Raymond Miles, yang menyatakan bahwa pendekatan hubungan kemanusiaan secara sederhana menempatkan karyawan sebagai manusia, tidak sebagai mesin yang dipergunakan dalam berprodukai, artinya memahami kebutuhan-kebutuhan manusia yang ingin dianggap ada dan merasa diperhatikan dengan cara didengarkan dan diperhatikan keluhan-keluhannya jiika memungkinkan dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan tertentu baik mengenai kondisi pekerjaannya atau masalah-masalah lainnya.

Pada sejarah gerakan hubungan kemanusiaan terdapat 3 (tiga) kejadian yang memberikan kontribusinya dalam penelaahan ilmu perilaku organisasi. Tiga kejadian tersebut antara lain :

  1. Masa-masa depresi yang hebat
  2. Gerakan kaum buruh
  3. Hasil penemuan Hawthorne

5.  MASA DEPRESI

Pada masa depresi terjadi kegoncangan yang hebat di bidang keuangan dan perekonomian pada umumnya. Produksi yang merosot, pasaran yang lesu mewarnai kehidupan perekonomian saat itu. Sebab-sebab dari depresi  antara lain :

  1. Menumpuknya inventaris usaha dan akumulasi stok barang baru yang besar ditangan konsumen
  2. Konsumen menolak naiknya harga dan naiknya biaya usaha
  3. Merosotnya minat pemanfaatan invesmen
  4. Akumulasi dalam jumlah yang besar dari kemampuan produksi baru dan pengembangan teknologi
  5. Jarangnya investasi yang berskala besar dan kelesuan dari cadangan bank
  6. Melemahnya kepercayaan dan harapan-harapan

Akibat dari depresi yaitu muncul banyaknya pengangguran, ketidaktentuan hidup serta muncul ketidakamanan dari masyarakat dengan banyaknya pencurian dan perampokan karena tuntutan untuk kelangsungan hidup. Dengan adanya hal-hal seperti diatas maka muncul gagasan untuk meletakkan unsur manusia sebagai unsur yang amat dominan dalam manajemen. Hasil dari depresi yaitu mengutamakan hubungan kemanusiaan sekaligus perilaku kemanusiaan dan perilaku organisasi mendapat perhatian secara seksama. 

6.  GERAKAN SERIKAT BURUH

Gerakan ini muncul disebabkan karena manajer-manajer tidak mau mengenal secara tepat sumbangan manusia/ apa yang telah dikorbankan bawahan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Pada waktu itu banyak perusahaan yang memperlakukan para pegawai atau buruh dengan tidak layak, misalnya dengan memberikan gaji yang rendah, jam kerja yang tidak memadai dalam arti para buruh bekerja dalam jam kerja yang panjang, serta kondisi tempat kerja yang kurang patut/layak. Akibat dari semua itu maka timbullah gejolak dari kaum buruh. Kaum buruh mulai mendirikan serikat buruh dan mengadakan demonstrasi untuk menuntut perbaikan ditempat kerjanya. Gerakan serikat buruh tersebut apabila berlarut-larut maka akan sangat mengganggu terhadap kelancaran atau kelangsungan suatu organisasi. Berdasarkan hal tersebut maka serikat buruh diakui secara sah/resmi serta para manajer mulai menyadari untuk memberikan perhatian kepada kaum buruh.

Hampir semua manajer mencoba mendirikan unit/bagian kepegawaian sebagai suatu jawaban untuk menangani persoalan-persoalan kepegawaian dan serikat buruh. Manajer berusaha memberikan penekanan pada hubungan kerja para karyawannya dengan pimpinan dan memberikan perhatian terhadap perbaikan gaji, jam kerja dan kondisi tempat kerja. 

7.  PENEMUAN HAWTHORNE

Tujuan dari penelitian Hawthorne antara lain untuk mencari sampai dimana pengaruh hubungan antara kondisi fisik tempat bekerja dengan produktivitas karyawan. Secara khusus penelitian ini ialah untuk mendapat gambaran yang jelas tentang pengaruh faktor-faktor seperti temperatur, kelembaban udara dan cahaya terhadap kelelahan dan gerakan berulang dari pekerja. Penelitian Hawthorne dilakukan atas beberapa langkah adalah sebagai berikut :

1.   Fase pertama merupakan percobaan tentang cahaya lampu

Beberapa kelompok pekerja dicoba dengan memberi sejumlah penerangan cahaya lampu dalam tempat mereka bekerja. Ada yang diberi penerangan cahaya lampu berlebihan, dan ada yang kurang. Kemudian diamati dan dicatat perkembangannya. Hasilnya berlainan satu sama lain yaitu terdapat kelompok yang hasilnya naik, ada kelompok  yang hasilnya turun sedang terdapat kelompot yang hasilnya tetap.

Secara umum hasil dari fase pertama ini adalah :

1)      Cahaya penerangan lampu hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasil kerja meskipun pengaruhnya kecil sekali.

2)      Beberapa faktor yang tidak sempat nampak, belum ada kesempatan yang baik untuk diteliti pengaruhnya.

2.    Fase kedua merupakan percobaan ruang istirahat.

Meneliti sekelompok kecil pekerja yang ditempatkan tersendiri dalam usaha untuk mengatasi beraneka macam pengaruh dari tingkah laku pekerja ketika individu-individu itu mengetahui bahwa mereka sedang diamati. Dua wanita dipilih dalam percobaan ini, mereka diminta memilih 4 pekerja lainnya untuk bersama-sama mereka di dalam ruang istirahat yang terpisah dari sisa kelompok lainnya. Setelah diamati dan diinterview hasilnya hampir sama dengan fase yang pertama.

3.     Fase ketiga disebut studi tentang ruang bank tilgram

Tujuannya adalah untuk melakukan analisa pengamatan terhadap kelompok pekerja informal. Kelompok ini terdiri dari 14 pekerja operator laki-laki, 9 tukang tilgram, 3 tukang solder dan 2 inspektur. Hasil dari fase ketiga ini yaitu tidak ada kenaikan produktivitas  yang berlanjut.

Berdasarkan dari penelitian yang sudah dilakukan, maka hasil temuan dari Hawthorne adalah sebagai berikut :

1)      Sikap dan perilaku positif serta produktivitas para karyawan tidak terlalu dipengaruhi oleh fasilitas dan kondisi kerja, melainkan oleh perhatian yang diberikan manajer.

2)      Perilaku seorang pekerja sangat ditentukan oleh dan terikat pada norma-norma kelompok kerja dimana seseorang menjadi anggota.

8.  EVOLUSI ILMU PERILAKU DALAM MANAJEMEN

Berikut ini adalah catatan ikhtisar perkembangan ilmu perilaku dalam ilmu manajemen yang dimulai dari anggapan Machiavelli sampai dengan ahli-ahli ilmu perilaku modern :

1. Asumsi dasar tentang sifat manusia

1)    Machiavelli

Ia beranggapan bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah jahat dan diperbudak oleh kehendak dari penguasa dan negara

2)    Filosof Inggris

Menilai manusia ini hakikatnya memerlukan kondisi mental yang kuat dalam rangka untuk mencapai keinginannya.

3)    Max Weber

Manusia secara pokok adalah tidak rasional dan emosional yang membuat kurang baiknya keputusan yang diambil

4)    Frederick W. Taylor

Manusia secara fundamental adalah malas dan harus senantiasa dikendalikan secara ketat dan hati-hati agar dapat dihindarkan pemborosan

5)    Elton Mayo

Manusia adalah makhluk sosial yang menginginkan untuk bergabung dengan lainnya. Kecenderungan ingin bekerja sama, bukan bersaing dan menimbulkan permusuhan

6)    Ahli Ilmu Perilaku Modern

Manusia bukan baik dan juga bukan jelek. Beberapa orang beranggapan bahwa manusia mempunyai keunikan dalam hal perilaku yang terarah, lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia dalam banyak hal menunjukkan sebagai sasaran yang tidak teratur.

2. Pendekatan untuk menganalisa perilaku manusia

1)    Machiavelli

Menggunakan pendekatan analogi sejarah dan observasi dalam hubungannya dengan lingkungan yang menyeluruh

2)    Filosof Inggris

Labih banyak menggunakan pendekatam falsafah yaitu semua percaya bahwa pengalaman  adalah sumber dari pengertian dan mereka menerima metode induksi sebagaimana yang dirumuskan oleh Francis Bacon

3)    Max Weber

Menggunakan pendekatan rasional yang logis dan deduktif. Dimulai dari perumusan premis yang baik berakhir dengan konklusi-konklusi tertentu

4)    Frederick W. Taylor

Menggunakan pendekatan yang eksperimen dan sangat ilmiah. Penggunaan pendekatannya dimulai dari unsur-unsur kecil dari pekerjaan dan menghasilkan suatu teori tentang manajemen

5)    Elton Mayo

Menggunakan metode eksperimen dan filosofis Di dalam melengkapi fakta-faktanya ia memberikan pertimbangan kebebasan dengan dilambari pandangan-pandangan yang filosofis.

6)    Ahli Ilmu Perilaku Modern

Menggunakan metode eksperimen dengan memberikan penekanan pada observasi  terkendali dan generalisasi dari data.

3. Nilai yang menonjol

1)    Machiavelli

Nilai kekuasaan dan praktika dari cara-cara berpolitik untuk mencapai tujuan

2)    Filosof Inggris

Aturan dan seperangkat aturan dalam rangka untuk mencapai pemerintahan yang fungsional.

3)    Max Weber

Keputusan organisasi yang rasional dan logis

4)    Frederick W. Taylor

Upah harian yang jujur untuk kerja harian yang adil dan terbuka

5)    Elton Mayo

Di dalam hubungan organisasi maka diperlukan kesehatan mental dan kepuasan

6)    Ahli Ilmu Perilaku Modern

Pengertian yang ilmiah dengan deskripsi perilaku manusia yang menyeluruh

4. Yang memperolah keberuntungan dari preskripsi ilmu perilaku

1)    Machiavelli

Adalah para penguasa dan politisi

1)    Filosof Inggris

Adalah masyarakat lewat pemerintahan yang bersih

2)    Max Weber

Ialah organisasi sebagi suatu kesatuan yang rasional dan efisien

3)    Frederick W. Taylor

Manajer-manajer dari organisasi dan para pekerja melalui peningkatan upah

4)    Elton Mayo

Manajemen dan para pekerja melalui meningkatnya kepuasan dan kesehatan mental

5)    Ahli Ilmu Perilaku Modern

Melaui kepahaman dari perilaku manusia yang senantiasa bertambah. Nilai manajemen terhadap kepahaman tersebut akan membawa kearah penyempurnaan pelaksanaan kerja.

5. Penghargaan pada manajemen modern

1)    Machiavelli

Hendaknya bisa diamalkan dalam praktek dan sesuai dengan tujuan

2)    Filosof Inggris

Dalam konsep mengenai aturan adalah idealistik

3)    Max Weber

Berpengharapan dalam dukungan-dukungannya yang rasional dan pengambilan keputusan yang didukung oleh bahan-bahan keterangan yang lengkap

4)    Frederick W. Taylor

Pemaksaan dalam pandangan yang sederhana dari manusia ekonomi

5)    Elton Mayo

Menarik dalam gambarannya manusia sosial

6)    Ahli Ilmu Perilaku Modern

Pemaksaan dalam obyektivitasnya dan kerangkanya yang sistematis

 

DAFTAR PUSTAKA

Cummings, Larry L. 1978. Toward Organizational Behavioral. Academy of Management Review

Gibson, James L, John M. Ivancevich, James H. Donnely Jr.1997. Organisasi dan Manajemen (Perilaku, Struktur, Proses), Erlangga. Jakarta

Johns, G. 1983. Organizational Behavior. Glenview, III : Scott. Foresman and Co

Mangkunegaran, Anwar Prabu. 2005. Perilaku dan Budaya Organisasi, Refika Aditama. Bandung

Thoha, Miftah. 2001. Perilaku Organisasi. Konsep Dasar dan Aplikasinya, PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s